Rudraksha, Air Mata ShivaRUDRAKSHA
alias ganitri atau disebut air mata Shiva merupakan tanaman spiritual
memiliki khasiat luar biasa. Sesuai mitologinya Tuhan tertinggi
Paramashiva perlu bertapa 1.000 tahun dewa menciptakan tanaman yang
penuh berkah ini. Tanaman Rudraksha memiliki macam-macam mukhi -- muka
-- dari mukhi satu, hingga lebih dari 33 garis mukhi. Rudraksha ini
sangat dimuliakan penyembah Shiva.
PEMUJA Shiva, bila tidak menggunakan rudraksha maka terasa ada yang masih kurang dalam proses persembahyangannya. Bukan saja sadhaka -- seorang bhakta -- para sulinggih Shiva, saat sebagai sang yajamana mamuput karya menggunakan ganitri dari mulai di kepala, kuping, badan, termasuk pinggang. Tidak saja ganitri ini dipergunakan sebagai japa untuk umat Hindu, rosario untuk Kristen, dan tasbih buat kaum Muslim. Tetapi biji ganitri juga dimanfaatkan berbagai macam obat terutama di India, Nepal dan Cina. Sedangkan di Bali sendiri apresiasi terhadap rudraksa ini sudah cukup memasyarakat. Bahkan sudah banyak ada perajin japa rudraksha, bisa disebutkan di antaranya Made ''De Japa'' Sujana, S.H., Ibu Soma, Agung Sibang, Denok dan lain-lain.
PEMUJA Shiva, bila tidak menggunakan rudraksha maka terasa ada yang masih kurang dalam proses persembahyangannya. Bukan saja sadhaka -- seorang bhakta -- para sulinggih Shiva, saat sebagai sang yajamana mamuput karya menggunakan ganitri dari mulai di kepala, kuping, badan, termasuk pinggang. Tidak saja ganitri ini dipergunakan sebagai japa untuk umat Hindu, rosario untuk Kristen, dan tasbih buat kaum Muslim. Tetapi biji ganitri juga dimanfaatkan berbagai macam obat terutama di India, Nepal dan Cina. Sedangkan di Bali sendiri apresiasi terhadap rudraksa ini sudah cukup memasyarakat. Bahkan sudah banyak ada perajin japa rudraksha, bisa disebutkan di antaranya Made ''De Japa'' Sujana, S.H., Ibu Soma, Agung Sibang, Denok dan lain-lain.
Realitasnya, pemeluk agama Hindu memang sudah banyak yang menggunakan biji rudraksha sebagai salah satu media peribadatan. Biasanya biji-biji itu diuntai membentuk kalung, rangkaian seperti tasbih bagi penganut Islam atau rosario bagi kaum Nasrani. Pangsa pasar terbesar biji ganitri ke India dan Nepal. Di negara di Asia Selatan itulah penganut Hindu terbesar. Tak hanya itu, ganitri dipercaya berkhasiat obat berbagai penyakit. Di Indonesia ganitri banyak terdapat, bahkan 80 persen terutama di Cilacap, Malang, Kebumen, Palembang, bahkan di Bali, Nusa Penida banyak ada ganitri ini. Sejauh ini baru sedikit orang memanfaatkan pohon ini untuk tujuan ekonomis dan bisnis. Kebanyakan memandang sebagai pohon pelindung.
''Sekarang masyarakat sudah mulai melirik rudraksha ini. Masyarakat Bali bahkan sudah banyak yang menanam tanaman kesayangan Deva Shiva ini,'' ujar De Japa, pemuja Shiva yang sangat taat ini.
Untuk mendapatkan rudraksha di Bali dalam jumlah banyak memang masih sulit. De Japa mengaku memiliki relasi di beberapa sentra rudraksa di Jawa seperti di Kebumen, lewat temannya Kukuh. ''Di Bali baru beberapa orang yang menanam rudraksa ini secara besar-besaran. Bisa jadi empat dan lima tahun mendatang, di Bali mulai panen ganitri,'' ujar De Japa.
Walau rudraksha sulit masih ditemui dan didapatkan di Bali, Bali termasuk sentra perajin japa rudraksa. Melalui Ibu Soma, rudraksa sudah dipasarkan ke berbagai negara. Harganya bervariasi dari mulai Rp 50 ribu hingga Rp 80 ribu, bahkan bisa lebih jika menggunakan rudraksha yang spesial, mukhi-mukhi berbeda.
Ke depan binis rudraksa ini sangat menguntungkan dan juga menjanjikan. Prospek membudidayakan dan menanam rudraksa dari segi ekonomis memiliki nilai tambah. Sedangkan dari lingkungan, mampu memberikan implikasi peningkatan vibrasi, dan aura spiritual lokasi dan tempat sekitar tanaman ini. Apalagi, sang penanam mengerti nilai spiritual dari tanaman kesayangan Deva Shiva ini. Setiap saat, dilantunkan puja ''Om Namah Shiva ya'', maka dampat spiritualnya akan sangat luar biasa. (ram/dari berbagai sumber)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar