Senin, 27 Oktober 2014

upacara potong gigi



BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Yadnya menurut ajaran agama Hindu, merupakan satu bentuk kewajiban yang harus dilakukan oleh umat manusia di dalam kehidupannya sehari-hari. Sebab Tuhan menciptakan manusia beserta makhluk hidup lainnya berdasarkan atas yadnya, maka hendaklah manusia memelihara dan mengembangkan dirinya, juga atas dasar yadnya sebagai jalan untuk memperbaiki dan mengabdikan diri kepada Sang Pencipta yakni Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa).
   Saha yajñáh prajah strishtva
   puro
 váchap rajápatih
   anena
 prasavishya dhvam
   esha
 vastvishta kámadhuk
(Bhagawad Gita.III.10)
Artinya:
Dahulu kala Hyang Widhi (Prajapati), menciptakan manusia dengan jalan yadnya, dan bersabda: "dengan ini (yadnya) engkau akan berkembang dan mendapatkan kebahagiaan (kamadhuk) sesuai dengan keinginanmu".
    Deván bhávayatá nena
    te devá bhávayantuvah
    parasparambhávayantah
    sreyah param avápsyatha.
 (Bhagawad Gita. III.11)


Artinya:
Dengan ini (yadnya), kami berbakti kepada Hyang Widhi dan dengan ini pula Hyang Widhi memelihara dan mengasihi kamu, jadi dengan saling memelihara satu sama lain, kamu akan mencapai kebaikan yang maha tinggi.


Tanpa penciptaan melalui yadnya-Nya Hyang Widhi maka alam semesta berserta segala isinya ini, termasuk pula manusia tidak mungkin ada. Hyang Widhilah yang pertama kali beryadnya menciptakan dunia dengan segala isinya ini dengan segala cinta kasih-Nya. Karena inilah pelaksanaan yadnya di dalam kehidupan ini sangat penting artinya dan   merupakan suatu kewajiban bagi umat manusia di dunia. Karena itu pula kita dituntut untuk mengerti, memahami dan melaksanakan yadnya tersebut di dalam realitas hidup sehari-hari sebagai salah satu amalan ajaran agama yang diwahyukan oleh Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa). Sejak masih berumur satu hari, setiap orang Bali dipenuhi dengan banyak ritual dalam hidupnya. Mulai dari upacara saat kelahirannya hingga ia meninggal dunia. Salah satu yang harus dilalui adalah Upacara Potong Gigi atau Metatah / Mesanggih dalam Bahasa Bali. Upacara Metatah merupakan salah satu ritual yang terpenting bagi setiap individu orang Bali yang menganut agama Hindu Bali. Upacara ini menandai satu babak hidup memasuki usia dewasa secara niskala.
Upacāra mapandes disebut pula matatah, masangih yang dimaksud adalah memotong atau meratakan empat gigi seri dan dua taring kiri dan kanan, pada rahang atas, yang secara simbolik dipahat 3 kali, diasah dan diratakan. Rupanya dari kata masangih, yakni mengkilapkan gigi yang telah diratakan, muncul istilah mapandes, sebagai bentuk kata halus (singgih) dari kata masangih tersebut.
Bila kita mengkaji lebih jauh, upacāra Mapandes dengan berbagai istilah atau nama seperti tersebut di atas, merupakan upacāra Śarīra Saskara, yakni menyucikan diri pribadi seseorang, guna dapat lebih mendekatkan dirinya kepada Tuhan Yang Maha Esa, Sang Hyang Widhi, para dewata dan leluhur. Di Bali upacāra ini dikelompokkan dalam upacāra Manusa Yajña.
Berdasarkan pengertian upacāra Mapandes seperti tersebut di atas, dapatlah dipahami bahwa upacāra ini merupakan upacāra Vidhi-vidhana yang sangat penting bagi kehidupan umat Hindu, yakni mengentaskan segala jenis kekotoran dalam diri pribadi, melenyapkan sifat-sifat angkara murka, Sadripu (enam musuh dalam diri pribadi manusia) dan sifat-sifat keraksasaan atau Asuri-Sampad lainnya. Untuk lebih jelasnya maka di buatlah MAKALAH yang berjudul “ Upacara Potong Gigi (mepandes).

1.2 Rumusan Masalah
            1.2.1  Apakah Pengertian Upacara Potong Gigi ?
            1.2.2  Apakah Tujuan Melaksanakan Upacara Potong Gigi ?
            1.2.3  Bagaimana Rangkaian Upacara Potong Gigi Secara Umum ?
1.2.4  Bagaimana Rangkaian Upacara Potong Gigi di Desa Mekar Dewata ?


1.3 Tujuan Penulisan
            1.3.1  Untuk Mengetahui Pengertian Upacara Potong Gigi.
            1.3.2  Untuk Mengetahui Tujuan Melaksanakan Upacara Potong Gigi.
            1.3.3  Untuk Mengetahui Rangkaian Upacara Potong Gigi Secara Umum.
1.3.4 Untuk Mengetahui Rngkaian Upacara Potong Gigi di Desa Mekara   Dewata.

1.4 Metode Pemecahan Masalah
Dalam penyusunan Makalah ini penulis menggunakan Metode Study Kepustakaan yaitu pengumpulan data dengan menggunakan buku- buku sebagai sumber refrensi yang ada kaitannya dengan judul yang penulis angkat, pengumpulan data dari Internet dan penulis juga mengadakan observasi secara langsung, kebetulan penulis mengalami sendiri sehingga dapat memahami isi makalah ini.







BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1   Pengertian Upacara Potong Gigi
Upacara potong gigi ini ditemukan saat Penggalian fosil – fosil manusia purba yang terdapat di Gilimanuk yang diperkirakan berumur sekitar 2000 tahun yang lalu, menunjukkan sudah dikenalnya sistem penguburan mayat yang terlipat dan pada gigi – gigi mereka menunjukkan tanda – tanda yang telah diasah. Dengan demikian maka dapatlah ditarik suatu kesimpulan bahwa upacara potong gigi sudah di kenal di pulau Bali ini sejak 2000 tahun yang lalu.
Upacara Potong Gigi mengandung arti pembersihan sifat buruk yang ada pada diri manusia. Potong gigi dalam bahasa Bali Mepandes bisa juga disebut Matatah atau Mesanggih, dimana 6 buah taring yang ada di deretan gigi atas dikikir atau ratakan, upacara ini merupakan satu kewajiban, adat istiadat dan kebudayaan yang masih terus dilakukan oleh umat Hindu di Bali secara turun temurun sampai saat ini.
Upacara ini dianggap sakral dan diperuntukan bagi anak anak yang mulai beranjak dewasa, dimana bagi anak perempuan yang telah datang bulan atau mensturasi, sedangkan bagi anak laki laki telah memasuki masa akil baliq atau suaranya telah berubah, dengan upacara ini juga anak anak dihantarkan ke suatu kehidupan yang mendewasakan diri mereka yang di sebut juga niskala. Prosesi potong gigi hanya merupakan simbolisasi saja. Gigi yang ada bukan dipotong tetapi diratakan dengan menggunakan kikir. Ada 6 gigi atas yang diratakan termasuk gigi taring, ke enam gigi ini yang melambangkan sad ripu. 
Hanya memakan waktu sekitar 10 – 15 menit untuk melakukan prosesi ini, dan yang melakukannya haruslah seorang yang ahli yang disebut sangging.Para sangging biasanya orang yang telah di inisiasi menjadi Pinandita yang memang memiliki ketrampilan untuk itu.
Mantra-mantra harus dilafalkan oleh sangging sebelum melakukan tugasnya supaya upacara berjalan dengan lancar dan semuanya dilakukan di bale keluarga.
Sangging, yang juga memiliki kekuatan supranatural ini lalu mengeluarkan sebuah cincin merah delima dan menuliskan rajahan
"Ongkara" pada gigi dan dada. Cincin ini berfungsi sebagai proteksi dari serangan ilmu hitam dari orang yang tak suka pada mereka, dan juga tempat metatah biasanya juga dijaga ketat oleh beberapa orang anggota keluarga dan juga yang memiliki kekuatan supranatural.
Tak jarang pula terdengar kabar orang yang ditatah menjadi sakit, giginya rontok bahkan ada yang sampai meninggal dunia. Oleh karena itu upacara metatah tak pernah dilakukan hingga sang surya berada di puncak langit.
Sebelum upacara dimulai, bagian mulut mereka(orang yang akan melakukan upacara potong gigi) diganjal terlebih dahulu dengan potongan dari kayu dadap atau tebu dan kumur-kumur dengan air perasan kunir lalu diakhiri dengan mengigit daun sirih pertanda berakhirnya proses metatah. Air liur yang keluar yang keluar ditampung dalam sebuah kelapa gading dan biasanya dipegang oleh ibu kandung.
Setelah itu merekapun diperciki dengan air suci atau Tirtha Pembersihan/Penyucian oleh Sangging. Lalu mereka pun bersembahyang di merajan keluarga, dipimpin oleh seorang pedanda untuk memohon perlindungan dari Sang Hyang Widi Wasa untuk memasuki tahapan baru dalam hidup mereka. Kepada leluhur mereka minta didoakan dan direstui jalan hidupnya yang
 dilambangkan dengan Kewangen.

Pantangan  Pantangan dalam Upacara Potong Gigi:
Ibu-Ibu/Wanita yang sedang hamil tidak dibolehkan melakukan upacara potong gigi/ mepandes.
 Dasar acuannya: Lontar Catur Cuntaka.
Penjelasan:
1.      Mepandes adalah suatu upacara yang menyebabkan diri cuntaka.
Lamanya cuntaka, saat dia naik ke bale petatahan, selama metatah, dan sampai selesai, diakhiri dengan mabeakala. Setelah mabeakala barulah cuntakanya hilang. Prosesi itu memakan waktu antara 1-2 jam. Walaupun masa cuntaka itu singkat, tetap saja Ibu itu kena cuntaka.
2.      Bayi atau jabang bayi yang ada dalam kandungan adalah roh suci yang patut dihormati, dipuja atas perkenan Sanghyang Widhi yang “mengijinkan” roh itu menjelma kembali menjadi manusia (walaupun masih berupa janin).
Jadi Ibu yang mengandung bayi yang suci, patut dihindarkan dari penyebab-penyebab cuntaka. Tidak hanya potong gigi saja, tetapi juga semua jenis cuntaka, misalnya: ngelayat orang mati, mengunjungi penganten (pawiwahan), memegang orang-orang sakit (sakit gede – lepra, aids dll).
Jadi demi keselamatan Ibu dan Bayi, sebaiknya dalam upacara potong gigi itu ditunda sampai bayinya lahir dan sudah berusia lebih dari 3 bulan.
Pantangan-pantangan Yang Dihindari
Ø  Tidak boleh makan atau minum sekehendaknya selama 3 hari. Makan dan minum panas atau dingin merupakan pantangan yang utama setelah melakukan upacara poyong gigi karena apabila makan dan minum yang panas atau dingin akan merusak gigi.
Ø  Tutur kata tidak boleh menjelek-jelekkan orang lain.
Ø  Sebelum dan sesudah melaksanakan upacara potong gigi tidak boleh meninggalkan rumah sekehendaknya Selama 3 hari.
Ø  Waktu tidur dan makan di atur oleh orang tua setelah mendapat penjelasan sebelumnya dari    pendeta yang memimpin upacara tersebut.
Ø  Waktu mandipun diatur
Ø  Tidak diperkenankan membunuh binatang, tidak boleh berkelahi atau mencaci maki orang    lain.

Lambang-lambang atau Makna yang Terkandung dalam Unsur-unsur Upacara:
Sebagaimana
 dikemukakan di atas bahwa ada beberapa perlengkapan upacara yang digunakan yaitu seperangkat sirih pinang, seperangkat piring adat, sebentuk emas, telur ayam, daging kelapa, gula  merah, dan daun pacar. 
Alat perlengkapan ini melambangkan antara lain
Ø  Sirih pinang dan piring adat merupakan sesuatu yang harus dimuliakan pada suku bangsa
Ø  Pamona pada setiap upacara tradisional sebab kedua perangkat alat ini melambangkan kesucian, kemuliaan, dan penghormatan kepada leluhurnya.
Ø  Telur ayam melambangkan supaya mempunyai keturunan yang banyak seperti ayam.
Ø  Daging kelapa melambangkan supaya hati mereka lemah lembut seperti daging kelapa tersebut.
Ø  Gula merah melambangkan supaya mempunyai masa depan yang manis seperti gula. Artinya agar dalam menjalani hidupnya kelak senantiasa mendapat kesenangan dan kedamaian hidup.
Ø  Daun pacar melambangkan agar mereka kelak mudah mendapat jodoh yang baik.

Bagi seseorang yang belum sempat mengikuti upacāra Mapandes, dan maut telah menjemput, berbagai tanggapan muncul, terhadap keadaan ini, Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat, melalui keputusan Seminar Kesatuan Tafsir terhadap Aspek Aspek Agama Hindumemberikan jalan ke luar, sebagai berikut:
1.      Mapandes adalah upacāra Manusa Yajña yang patut dilaksanakan pada saat seseorang masih hidup (sangat baik ketika remaja, belum berumah tangga). Mapandes bagi orang yang telah meninggal sesungguhnya tidak perlu dilakukan.
2.      Bila orang tua yang bersangkutan merasa masih punya hutang berupa kewajiban, dapat menempuhnya dengan upacara simbolis dengan kikir dari bunga teratai dilengkapi dengan adel-adel serta padi seakan-akan yang bersangkutan bermimpi diupacarakan mapandes.  
3.      Dengan demikian orang tua terbebas dari hutang kewajiban kepada anaknya, sehingga roh anaknya diharapkan dapat bersatu dengan roh leluhur yang telah disucikan.

Dampak upacara potong gigi terhadap kesehatan:
Penemuan di bidang kesehatan bahwa kikir gigi cenderung berdampak negatif sehingga lebih baik dihindari. Alasan tersebut telah menggoyah posisi upacara Mepandes. Tradisi mengikir gigi juga dapat dijumpai di sebagian besar daerah kebudayaan Jawa khususnya beberapa tingkat generasi di atas generasi saat ini. Barangkali, karena alasan kesehatan, ritual ini telah menguap: kikir gigi pada umumnya mengikis email atau bagian ujung gigi sehingga gigi menjadi rentan terhadap kerusakan dan infeksi. Dalam masyarakat modern, kikir gigi dilakukan lebih didorong oleh motif kecantikan dan dilakukan oleh dokter gigi.
Di dalam Lontar Dharma Kahuripan, Ekapratama, dan lontar Puja Kalapati, upacara potong gigi disebut “ atatah”. Sampai kini ada tiga istilah di Bali yang lazimnya digunakan untuk menyebut Upacara Potong Gigi ; “matatah”, “mepandas”, “mesangih”. Kata “ atatah” berarti pahat. Istilah metatah ini dihubungkan dengan suatu tatacara pelaksanaan upacara putong gigi yaitu kedua taring atas dan empat gigi seri pada rahang atas dipahat tiga kali secara simbolis sebelum pengasahan (perataan) giginya dilakukan lebih lanjut. Rupa – rupanya dari hal itulah muncul istilah matatah.
Mengenai istilah “Mesangih”, rupa–rupanya dimunculkan dari pada mengasah gigi seri dan taring atas dengan pengasah yaitu kikir dan sangihanpengilap, sehingga gigi seri dan taring menjadi rata dan mengkilap. Kata mesangih adalah bahasa Bali biasa dan Bali halusnya disebut Mepandes. Maka dari itulah muncul tiga istilah upacara potong gigi di Bali.

Upacara potong gigi merupakan merupakan salah satu bagian dari upacara Manusa-Yadnya yang patut untuk dilaksanakan oleh umat Hindu. Upacara ini mengandung pengertian yang sangat dalam bagi kehidupan umat Hindu yaitu :
1.      Pergantian prilaku untuk menjadi manusia sejati yang telah dapat mengendalikan diri dari godaan pengaruh sadripu.
2.      Memenuhi kewajiban orang tuanya pada anaknya untuk menemukan hakekat manusia yang sejati
3.      Untuk bertemu kembali di Sorga antara anak dengan orang tuanya setelah sama – sama meninggal dunia.

Dari pengertian ini dapatlah, bahwa upacara potong gigi adalah suatu upacara penting dalam kehidupan umat Hindu, karena bermakna menghilangkan kotoran diri (nyupat) sehingga menemukan hakekat manusia sejati dan terlepas dari belenggu kegelapan dari pengaruh Sad Ripu dalam diri manusia.
Lontar Atmaprasangsa menyebutkan bahwa, apabila tidak melakukan upacara potong gigi maka ronya akan mendapat hukuman dari betara Yamadipati di dalam neraka ( Kawah Candragomuka ) yaitu mengigit pangkal bambu petung. Terlaksananya upacara ini merupakan kewajiban orang tua terhadap anaknya, sehingga anaknya menjadi manusia sejati yang di sebut dengan Dharmaning Darma-Rena Ring Putra. Maka itulah orang tua di kalangan umat Hindu berusaha semasa hidupnya menunaikan kewajiban terhadap anaknya dengan melaksanakan upacara potong gigi. Guna membalas jasa Orang tuanya maka anak berkewajiban upacara Pitra Yadnya atau Ngaben saat orang tuanya meninggal dunia, sesuai dengan Dharmaning Putra Ring Rama Rena. Berbakti kepada orang tuanya sesuai ajaran Putra Sesana.

2.2  Tujuan Melaksanakan Upacara Potong Gigi (mepandes)
Tujuan upacara potong gigi dapat disimak lebih lanjut dari lontarkalapati dimana disebutkan bahwa gigi yang digosok atau diratakan dari gerigi adalah enam buah yaitu dua taring dan empat gigi seri di atas. Pemotongan enam gigi itu melambangkan symbol pengendalian terhadap sad Ripu (enam musuh dalam diri manusia). Meliputi kama (hawa nafsu), Loba (rakus), Krodha (marah), mada (mabuk), moha (bingung), dan Matsarya (iri hati). Sad Ripu yang tidak terkendalikan ini akan membahayakan kehidupan manusia, maka kewajiban setiap orang tua untuk menasehati anak-anaknya serta memohon kepada Hyang Widhi Wasa agar terhindar dari pengaruh sad ripu.Makna yang tersirat dari mitologi Kala Pati, kala Tattwa, dan Semaradhana ini adalah mengupayakan kehidupan manusia yang selalu waspada agar tidak tersesat dari ajaran agama (dharma) sehingga di kemudian hari rohnya dapat yang suci dapat mencapai surge loka bersama roh suci para leluhur, bersatu dengan Brahman (Hyang Widhi).Dalam pergaulan mudamudi pun diatur agar tidak melewati batas kesusilaan seperti yang tersirat dari lontar Semaradhana.
Disamping  itu pula upacāra Mapandes dapat dirujuk pada sebuah lontar bernama Puja Kalapati yang mengandung makna penyucian seorang anak saat akil balig menuju ke alam dewasa, sehingga dapat memahami hakekat penjelmaannya sebagai manusia. Berdasarkan keterangan dalam lontar Pujakalapati dan juga Ātmaprasangsa, maka upacāra Mapandes mengandung tujuan, sebagai berikut:
Melenyapkan kotoran dan cemar pada diri pribadi seorang anak yang menuju tingkat kedewasaan. Kotoran dan cemar tersebut berupa sifat negatif yang digambarkan sebagai sifat Bhūta, Kāla, Pisaca, Raksasa dan Sadripu(enam musuh dalam diri manusia) yang mempengarhui pribadi manusia, di samping secara biologis telah terjadi perubahan karena berfungsi hormon pendorong lebido seksualitas.

Adapun 6 sifat buruk dalam diri manusia atau disebut juga sad ripu yang harus dibersihkan itu meliputi:
1. Kama (hawa nafsu yang tidak terkendalikan)
2. Loba (ketamakan, ingin selalu mendapatkan yang lebih.)
3. Krodha (marahyang melampaui batas dan tidak terkendalikan).)
4. Mada (kemabukan yang membawa kegelapan pikiran)
5. Moha ( kebingungan atau kekurang mampu berkonsentrasi sehingga akibatnya individu tidak dapat menyelesaikan tugas dengan sempurna.
6. Matsarya (iri hati/ dengki yang menyebabkan permusuhan).

Jadi potong gigi bukan semata-mata untuk mencari keindahan tetapi mempunyai tujuan yang sangat mulia. Dari semua sifat yang ada ini, bila tidak dikendalikan dapat mengakibatkan hal- hal yang tidak baik/diinginkan, juga bisa merugikan dan membahayakan bagi anak-anak yang akan beranjak dewasa kelak dikemudian hari. Oleh karena itu kewajiban bagi setiap orang tua untuk dapat memberi nasehat, bimbingan serta permohonan doa kepada Sang Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) agar anak mereka terhindar dari 6 pengaruh sifat buruk/sad ripu yang sudah ada sejak manusia di lahirkan di dunia. Keenam musuh diri itu harus dibersihkan dari setiap diri manusia, sehingga ritual ini menjadi kewajiban agar kehidupan setelahnya menjadi bersih dari semua sifat buruk tersebut. Sad Ripu yang tidak terkendalikan akan membahayakan kehidupan manusia, maka kewajiban setiap orang tua untuk menasehati anak-anaknya serta memohon kepada Sang Hyang Widhi Wasa agar terhindar dari pengaruh sad ripu. Makna yang tersirat dari mitologi Kala Pati, kala Tattwa, dan Semaradhana ini adalah mengupayakan kehidupan manusia yang selalu waspada agar tidak tersesat dari ajaran agama (dharma) sehingga di kemudian hari rohnya yang suci dapat mencapai surga loka bersama roh suci para leluhur, bersatu dengan Brahman (Hyang Widhi).Dalam pergaulan muda- mudi pun diatur agar tidak melewati batas kesusilaan seperti yang tersirat dari lontar Semaradhana.
Dengan kesucian diri, seseorang dapat lebih mendekatkan dirinya dengan Tuhan Yang Maha Esa, para dewata dan leluhur. Singkatnya seseorang akan dapat meningkatkan Śraddhā dan Bhakti kepada-Nya.





2.3  Rangkaian Upacara Potong Gigi.
Tata cara pelaksanaanya berdasarkan ketentuan dalam lontar Dharma Kahuripan dan lontar Puja Kalapati, bahwa tahapan upacara potong gigi adalah :
  1. Magumi padangan, Upacara ini juga di sebut mesakapan kepawon dan dilaksanakan di dapur.
  2. Nekeb, Upacara ini dilakukan di meten atau di gedong
  3. Mabyakala, Ini dilakukan di halaman rumah di depan meten atau gedong.
  4. Ke Merajan, atau tempat suci di dalam rumah. Urut – urutan upacara di merajan adalah :
Mohon penugrahan kepada Bhatara Hyang Guru, Menyembah Ibu dan Bapak, Ngayab caru ayam putih, Mohon tirtha (air suci) kepada Bhatara Hyang Guru, Ngerajah gigi (Menulis gigi dengan wijaksara) dan Di pahat taringnya secara tiga kali.
5.      Menuju ketempat potong gigi, Urut – urutan upacaranya :
Sembahyang kepada Bhatara Surya dan kepada Bhatara Semara dengan Bhatarai Ratih, Mohon tirtha kepada Bhatara Samara dan Bhatari Ratih. Ngayab banten pengawak di bale dangin, Metatah atau memotong / mengasah dua buah taring dan empat buah gigi seri pada rahang atas dan Turun dari tempat potong gigi, jalannya ke hilir dengan menginjak banten paningkeb.
6.      Kembali ke meten/ gedong tempat ngekeb. Bila ingin berganti pakaian, sekarang bias dilakukan

7.      Mejaya – jaya di merajan. Urutan upacaranya :
·         Mabyakala
·         Sembahyang kepada : Bhatara Surya, Leluhur dan Bhatara Samudaya.
·         Menuju ke hadapan Sang Muput Upacara, disini dilakukan meeteh- eteh persediaan : Mapyrascita, Pangrabodan, Ngayab pungun-pungun dan pajejiwan, Matirtha penglukatan, pebersihan dan kekuluh, Mejaya -jaya, Ngayab benten oton, Ngayab banten pawinten-digunakan dan Mapadamel
·         Kembali ke meten/gedong tempat ngekeb.
8.      Mapinton ke Pura Khayangan Tiga, ke Pura Kawitan dan ke Pura lainnya yang menjadi pujaannya.

Urutan Upacara :
1.   Setelah sulinggih ngarga tirta, mereresik dan mapiuning di Sangah Surya, maka mereka yang akan mepandes dilukat dengan padudusan madya, setelah itu mereka memuja Hyang raitya untuk memohon keselamatan dalam melaksanakan upacara.
2.   Potong rambut dan merajah dilaksanakan dengan tujuan mensucikan diri serta menandai adanya peningkatan status sebagai manusia yaitu meningalkan masa anak-anak ke masa remaja.
3.   Naik ke bale tempat mepandes dengan terlebih dahulu menginjak caru sebagai lambing keharmonisan,mengetukkan linggis tiga kali (Ang, Ung, Mang) sebagai simbol mohon kekuatan kepada Hyang Widhi dan ketiak kiri menjepit caket sebagai symbol kebulatan tekad untuk mewaspadai sad ripu.
4.   Selama mepandes, air kumur dibuang di sebuah nyuh gading agar tidak menimbulkan keletehan.
5.   Dilanjutkan dengan mebiakala sebagai sarana penyucian serta menghilangkan mala untuk menyongsong kehidupan masa remaja.
6.   Mapedamel berasal dari kata “dama” yang artinya bijaksana. Tujuan mapedamel setelah potong gigi adalah agar si anak dalam kehidupan masa remaja dan seterusnya menjadi orang yang bijaksana, yaitu tahap menghadapi suka duka kehidupan, selalu berpegang pada ajaran agama Hindu, mempunyai pandangan luas, dan dapat menentukan sikap yang baik, karena dapat memahami apa yang disebut dharma dan apa yang disebut adharma.
7.   Natab banten, tujuannya memohon anugerah Hyang Widhi agar apa yang menjadi tujuan melaksanakan upacara dapat tercapai.
8.   Metapak, mengandung makna tanda bahwa kewajiban orang tua terhadap anaknya dimulai sejak berada dalam kandungan ibu sampai menajdi dewasa secara spiritual sudah selesai, makna lainnya adalah ucapan terima kasih si anak kepada orang tuanya karena telah memelihara dengan baik, serta memohon maaf atas kesalahan-kesalahan anak terhadap orang tua, juga mohon doa restu agar selamat dalam menempuh kehidupan di masa datang



Sarana:
1.      Sajen sorohan dan suci untuk persaksian kepada Hyang Widhi Wasa.
2.      Sajen pabhyakalan prayascita, panglukatan, alat untuk memotong gigi beserta perlengkapannya seperti: cermin, alat pengasah gigi, kain untuk rurub serta sebuah cincin dan permata, tempat tidur yang sudah dihias.
3.      Sajen peras daksina, ajuman dan canang sari, kelapa gading dan sebuah bokor.
4.      Alat pengganjal yang dibuat dari potongan kayu dadap. Belakangan dipakai tebu, supaya lebih enak rasanya.
5.      Pengurip-urip yang terdiri dari kunir serta pecanangan lengkap dengan isinya.
Tata cara:
1.      Yang diupacarai terlebih dahulu mabhyakala dan maprayascita.
2.      Setelah itu dilanjutkan dengan muspa ke hadapan Siwa Raditya memohon kesaksian.
3.      Selanjutnya naik ke tempat upacara menghadap ke hulu. Pelaksana upacara mengambil cincin yang dipakai ngerajah pada bagian-bagian seperti: dahi, taring, gigi atas, gigi bawah, lidah, dada, pusar, paha barulah diperciki tirtha pesangihan.
4.      Upacara dilanjutkan oieh sangging dengan menyucikan peralatannya.
5.      Orang yang diupacari diberi pengganjal dari tebu dan giginya mulai diasah, bila sudah dianggap cukup diberi pengurip-urip.
6.      Setelah diberi pengurip-urip dilanjutkan dengan natab banten peras kernudian sembahyang ke hadapan Surya Chandra dan Mejaya-jaya.

BAB III
PEMBAHASAN

3.1  Rangkaian Upacara Potong Gigi di Desa Mekar Dewata
Tata cara pelaksanaanya upacara potong gigi di Desa Mekar Dewata adalah sebagai berikut :
1.      Menuju ketempat potong gigi, Urut – urutan upacaranya :
Sembahyang kepada Bhatara Surya dan kepada Bhatara Semara dengan Bhatarai Ratih, Mohon tirtha kepada Bhatara Samara dan Bhatari Ratih. Ngayab banten pengawak di bale dangin, Metatah atau memotong / mengasah dua buah taring dan empat buah gigi seri pada rahang atas dan Turun dari tempat potong gigi, jalannya ke hilir dengan menginjak banten paningkeb.
2.      Kembali ke meten/ gedong tempat ngekeb. Bila ingin berganti pakaian, sekarang bisa dilakukan
3.      Mejaya – jaya di merajan. Urutan upacaranya :
·         Mabyakala
·         Sembahyang kepada : Bhatara Surya, Leluhur dan Bhatara Samudaya.
·         Menuju ke hadapan Sang Muput Upacara, disini dilakukan meeteh- eteh persediaan : Mapyrascita, Pangrabodan, Ngayab pungun-pungun dan pajejiwan, Matirtha penglukatan, pebersihan dan kekuluh, Mejaya -jaya, Ngayab benten oton, Ngayab banten pawinten-digunakan dan Mapadamel
·         Kembali ke meten/gedong tempat ngekeb.
4.      Mapinton ke Pura Khayangan Tiga, ke Pura Kawitan dan ke Pura lainnya yang menjadi pujaannya namun di Desa Mekar Dewata ini dilakukan nyawang dari merajan langsung.

3.2 Urutan Upacara di Desa Mekar Dewata
1.   Setelah sulinggih ngarga tirta, mereresik dan mapiuning di Sangah Surya, maka mereka yang akan mepandes dilukat dengan padudusan madya, setelah itu mereka memuja Hyang raitya untuk memohon keselamatan dalam melaksanakan upacara.
2.   Potong rambut dan merajah dilaksanakan dengan tujuan mensucikan diri serta menandai adanya peningkatan status sebagai manusia yaitu meningalkan masa anak-anak ke masa remaja.
3.   Naik ke bale tempat mepandes dengan terlebih dahulu menginjak caru sebagai lambing keharmonisan,mengetukkan linggis tiga kali (Ang, Ung, Mang) sebagai symbol mohon kekuatan kepada Hyang Widhi dan ketiak kiri menjepit caket sebagai symbol kebulatan tekad untuk mewaspadai sad ripu.
4.   Selama mepandes, air kumur dibuang di sebuah nyuh gading agar tidak menimbulkan keletehan.
5.   Dilanjutkan dengan mebiakala sebagai sarana penyucian serta menghilangkan mala untuk menyongsong kehidupan masa remaja.
6.   Mapedamel berasal dari kata “dama” yang artinya bijaksana.Tujuan mapedamel setelah potong gigi adalah agar si anak dalam kehidupan masa remaja dan seterusnya menjadi orang yang bijaksana, yaitu tahap menghadapi suka duka kehidupan, selalu berpegang pada ajaran agama Hindu,mempunyai pandangan luas,dan dapat menentukan sikap yang baik, karena dapat memahami apa yang disebut dharma dan apa yang disebut adharma.
7.   Natab banten, tujuannya memohon anugerah Hyang Widhi agar apa yang menjadi tujuan melaksanakan upacara dapat tercapai.
8.   Metapak, mengandung makna tanda bahwa kewajiban orang tua terhadap anaknya dimulai sejak berada dalam kandungan ibu sampai menajdi dewasa secara spiritual sudah selesai,makna lainnya adalah ucapan terima kasih si anak kepada orang tuanya karena telah memelihara dengan baik, serta memohon maaf atas kesalahan-kesalahan anak terhadap orang tua,juga mohon doa restu agar selamat dalam menempuh kehidupan di masa datang
3.3 Sarana yang digunakan di Desa Mekar Dewata
1.      Sajen sorohan dan suci untuk persaksian kepada Hyang Widhi Wasa.
2.      Sajen pabhyakalan prayascita, panglukatan, alat untuk memotong gigi beserta perlengkapannya seperti: cermin, alat pengasah gigi, kain untuk rurub serta sebuah cincin     dan permata, tempat tidur yang sudah dihias.
3.      Sajen peras daksina, ajuman dan canang sari, kelapa gading dan sebuah bokor.
4.      Alat pengganjal yang dibuat dari potongan kayu dadap. Belakangan dipakai tebu, supaya lebih enak rasanya.
5.      Pengurip-urip yang terdiri dari kunir serta pecanangan lengkap dengan isinya.
3.4 Tata cara yang dilakukan di Desa Mekar Dewata
1.      Yang diupacarai terlebih dahulu mabhyakala dan maprayascita.
2.      Setelah itu dilanjutkan dengan muspa ke hadapan Siwa Raditya memohon kesaksian.
3.      Selanjutnya naik ke tempat upacara menghadap ke hulu. Pelaksana upacara mengambil cincin yang dipakai ngerajah pada bagian-bagian seperti: dahi, taring, gigi atas, gigi bawah, lidah, dada, pusar, paha barulah diperciki tirtha pesangihan.
4.      Upacara dilanjutkan oieh sangging dengan menyucikan peralatannya.
5.      Orang yang diupacari diberi pengganjal dari tebu dan giginya mulai diasah, bila sudah dianggap cukup diberi pengurip-urip.
6.      Setelah diberi pengurip-urip dilanjutkan dengan natab banten peras kernudian sembahyang ke hadapan Surya Chandra dan Mejaya-jaya.







BAB IV
PENUTUP
4.1    Kesimpulan
Dari serangkaian upacara diatas dapat kita pahami bahwa dalam diri setiap manusia sejak mereka dilahirkan sudah terdapat sifat yang tidak baik, bila tidak dikendalikan dapat mengakibatkan hal- hal yang tidak diinginkan, juga bisa merugikan dan membahayakan bagi anak-anak yang akan beranjak dewasa kelak dikemudian hari. Dengan melakukan upacara Potong Gigi ini anak yang sudah dewasa diingatkan dan diajarkan untuk tidak terjerumus dalam perbuatan yang dilarang agama dan bisa menjadi manusia yang berguna bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Upacra potong gigi ini sangatlah penting dilakukan untuk menetralisir sifat-sifat Sad Ripu yang ada di dalam diri manusia.
Upacara potong gigi biasanya disatukan dengan upacara Ngeraja Sewala atau disebutkan pula sebagai upacara “menek kelih”, yaitu upacara syukuran karena si anak sudah menginjak dewasa, meningkatkan masa anak-anak menuji ke masa dewasa.
Upacara potong gigi di Desa Mekar Dewata, dalam rangkaian pelaksanaannya sedikit ada perbedaan tidak sesuai dengan isi dalam lontar Dharma Kahuripan dan lontar Puja Kalapati, perbedaannya hanya sedikit di mana di Desa Mekar Dewata tidak ada rangkaian Megumi Padang, Nekeb, dan Mebyakala di natah atau halaman rumah. Di harapkan lebih di berikan pembinaan oleh tokoh agama agar umat di Desa Mekar Dewata dalam melakukan  kegiatan Upacara Potong Gigi sesuai dengan ini Kitap Suci.
4.2  Saran
Pelaksanaan maupun tata cara dari pada upacara potong gigi ( mepandes ) di harapkan harus memaknai secara serius supaya upacara tersebut menjadi sangat berkualitas, agar nantinya ke depan tidak  terjadi sesuatu yang tidak di inginkan. Karena jika kita salah melakukan yajna suatu yajnya maka pahala yang salah juga yang kita dapatkan, maka dari itu di harapkan kita lebih memaknai dan meyakini semua yajnya yang dilakukan.
Khusus untuk di Desa Mekar Dewata, tokoh Umat mungkin lebih memperdalam lagi pengetahuannya tentang kegiatan upacara potong gigi yang dilakukan sesuai dengan ini lontar atau kitap suci yang kita yakini sebagai pedoman kita hindup dan melakukan kegiatan keagamaan. Karena dengan kita melakukan yajnya yang sesuai petunjuk kitap suci di harapkan yajnya yang kita lakukan dapat di terima sehingganya kita di berikan anugrah oleh ida sang hyang widhi dan tercapai tujuan yajnya yang kita lakukan.




DAFTAR PUSTAKA
-PHDI. 2012. Pedoman ajaran agama hindu. Swastikarana. Jakarta.
-Sujana, nyoman susila. 2012. Manggala Upacara. Widya Dharma. Denpasar.
-Sakti, Hanuman. 1994. Manusa Yadnya, rai dkk, Jakarta
-Dwija.www.Stiti-Dharma-Onlaine.com.upacara-metatah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar