BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Yadnya menurut ajaran agama Hindu, merupakan satu bentuk
kewajiban yang harus dilakukan oleh umat manusia di dalam kehidupannya
sehari-hari. Sebab Tuhan menciptakan manusia beserta makhluk hidup lainnya
berdasarkan atas yadnya, maka hendaklah manusia memelihara dan mengembangkan
dirinya, juga atas dasar yadnya sebagai jalan untuk memperbaiki dan mengabdikan
diri kepada Sang Pencipta yakni Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa).
Saha yajñáh prajah strishtva
puro váchap rajápatih
anena prasavishya dhvam
esha vastvishta kámadhuk
puro váchap rajápatih
anena prasavishya dhvam
esha vastvishta kámadhuk
(Bhagawad Gita.III.10)
Artinya:
Dahulu kala Hyang Widhi (Prajapati), menciptakan manusia dengan jalan
yadnya, dan bersabda: "dengan ini (yadnya) engkau akan berkembang dan
mendapatkan kebahagiaan (kamadhuk) sesuai dengan keinginanmu".
Deván bhávayatá nena
te devá bhávayantuvah
parasparambhávayantah
sreyah param avápsyatha.
(Bhagawad Gita. III.11)
Artinya:
Dengan ini (yadnya), kami berbakti kepada Hyang Widhi dan dengan ini pula
Hyang Widhi memelihara dan mengasihi kamu, jadi dengan saling memelihara satu
sama lain, kamu akan mencapai kebaikan yang maha tinggi.
Tanpa penciptaan melalui yadnya-Nya Hyang Widhi maka alam
semesta berserta segala isinya ini, termasuk pula manusia tidak mungkin ada.
Hyang Widhilah yang pertama kali beryadnya menciptakan dunia dengan segala
isinya ini dengan segala cinta kasih-Nya. Karena inilah pelaksanaan yadnya di
dalam kehidupan ini sangat penting artinya dan merupakan suatu
kewajiban bagi umat manusia di dunia. Karena itu pula kita dituntut untuk
mengerti, memahami dan melaksanakan yadnya tersebut di dalam realitas hidup
sehari-hari sebagai salah satu amalan ajaran agama yang diwahyukan oleh Hyang
Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa).
Sejak masih
berumur satu hari, setiap orang Bali dipenuhi dengan banyak ritual dalam
hidupnya. Mulai dari upacara saat kelahirannya hingga ia meninggal dunia. Salah
satu yang harus dilalui adalah Upacara Potong Gigi atau Metatah / Mesanggih
dalam Bahasa Bali. Upacara Metatah merupakan salah satu ritual yang terpenting
bagi setiap individu orang Bali yang menganut agama Hindu Bali. Upacara ini
menandai satu babak hidup memasuki usia dewasa secara niskala.
Upacāra mapandes disebut pula matatah, masangih yang
dimaksud adalah memotong atau meratakan empat gigi seri dan dua taring kiri dan
kanan, pada rahang atas, yang secara simbolik dipahat 3 kali, diasah dan
diratakan. Rupanya dari kata masangih, yakni mengkilapkan gigi yang telah
diratakan, muncul istilah mapandes, sebagai bentuk kata halus (singgih) dari kata masangih tersebut.
Bila kita mengkaji lebih jauh, upacāra Mapandes dengan
berbagai istilah atau nama seperti tersebut di atas, merupakan upacāra Śarīra
Saṁskara, yakni menyucikan diri pribadi seseorang, guna dapat lebih
mendekatkan dirinya kepada Tuhan Yang Maha Esa, Sang Hyang Widhi, para dewata
dan leluhur. Di Bali upacāra ini dikelompokkan dalam upacāra Manusa Yajña.
Berdasarkan pengertian upacāra Mapandes seperti tersebut
di atas, dapatlah dipahami bahwa upacāra ini merupakan upacāra Vidhi-vidhana
yang sangat penting bagi kehidupan umat Hindu, yakni mengentaskan segala jenis
kekotoran dalam diri pribadi, melenyapkan sifat-sifat angkara murka, Sadripu
(enam musuh dalam diri pribadi manusia) dan sifat-sifat keraksasaan atau
Asuri-Sampad lainnya. Untuk lebih jelasnya maka di
buatlah MAKALAH yang berjudul “ Upacara Potong Gigi (mepandes).
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apakah Pengertian Upacara Potong Gigi ?
1.2.2 Apakah Tujuan Melaksanakan Upacara Potong
Gigi ?
1.2.3 Bagaimana Rangkaian Upacara Potong Gigi
Secara Umum ?
1.2.4 Bagaimana Rangkaian Upacara Potong Gigi di
Desa Mekar Dewata ?
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Untuk Mengetahui Pengertian Upacara Potong
Gigi.
1.3.2
Untuk Mengetahui Tujuan Melaksanakan
Upacara Potong Gigi.
1.3.3 Untuk Mengetahui Rangkaian Upacara Potong
Gigi Secara Umum.
1.3.4 Untuk Mengetahui Rngkaian
Upacara Potong Gigi di Desa Mekara
Dewata.
1.4 Metode Pemecahan Masalah
Dalam
penyusunan Makalah ini penulis menggunakan Metode Study Kepustakaan yaitu
pengumpulan data dengan menggunakan buku- buku sebagai sumber refrensi yang ada
kaitannya dengan judul yang penulis angkat, pengumpulan data dari Internet dan
penulis juga mengadakan observasi secara langsung, kebetulan penulis mengalami
sendiri sehingga dapat memahami isi makalah ini.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Upacara Potong Gigi
Upacara
potong gigi ini ditemukan saat Penggalian fosil – fosil manusia purba yang terdapat di Gilimanuk yang diperkirakan berumur sekitar 2000
tahun yang lalu, menunjukkan sudah dikenalnya sistem penguburan mayat yang
terlipat dan pada gigi – gigi mereka menunjukkan tanda – tanda yang telah
diasah. Dengan demikian maka dapatlah ditarik suatu kesimpulan bahwa upacara
potong gigi sudah di kenal di pulau Bali ini sejak 2000 tahun yang lalu.
Upacara Potong Gigi mengandung arti pembersihan sifat
buruk yang ada pada diri manusia. Potong gigi dalam bahasa Bali Mepandes bisa juga disebut Matatah atau Mesanggih, dimana 6 buah taring yang ada di deretan gigi atas
dikikir atau ratakan, upacara ini merupakan satu kewajiban, adat istiadat dan
kebudayaan yang masih terus dilakukan oleh umat Hindu di Bali secara turun
temurun sampai saat ini.
Upacara ini dianggap sakral dan diperuntukan bagi anak anak yang mulai
beranjak dewasa, dimana bagi anak perempuan yang telah datang bulan atau
mensturasi, sedangkan bagi anak laki laki telah memasuki masa akil baliq atau
suaranya telah berubah, dengan upacara ini juga anak anak dihantarkan ke suatu
kehidupan yang mendewasakan diri mereka yang di sebut juga niskala. Prosesi potong gigi hanya merupakan simbolisasi saja. Gigi yang ada bukan
dipotong tetapi diratakan dengan menggunakan kikir. Ada 6 gigi atas yang diratakan
termasuk gigi taring, ke enam gigi ini yang melambangkan sad ripu.
Hanya memakan waktu sekitar 10 – 15 menit untuk melakukan
prosesi ini, dan yang melakukannya haruslah seorang yang ahli yang disebut
sangging.Para sangging biasanya orang yang telah di inisiasi menjadi Pinandita
yang memang memiliki ketrampilan untuk itu.
Mantra-mantra harus dilafalkan oleh sangging sebelum
melakukan tugasnya supaya
upacara
berjalan dengan lancar dan semuanya dilakukan di bale keluarga.
Sangging, yang juga memiliki kekuatan supranatural ini lalu mengeluarkan sebuah cincin merah delima dan menuliskan rajahan "Ongkara" pada gigi dan dada. Cincin ini berfungsi sebagai proteksi dari serangan ilmu hitam dari orang yang tak suka pada mereka, dan juga tempat metatah biasanya juga dijaga ketat oleh beberapa orang anggota keluarga dan juga yang memiliki kekuatan supranatural.
Sangging, yang juga memiliki kekuatan supranatural ini lalu mengeluarkan sebuah cincin merah delima dan menuliskan rajahan "Ongkara" pada gigi dan dada. Cincin ini berfungsi sebagai proteksi dari serangan ilmu hitam dari orang yang tak suka pada mereka, dan juga tempat metatah biasanya juga dijaga ketat oleh beberapa orang anggota keluarga dan juga yang memiliki kekuatan supranatural.
Tak jarang pula terdengar kabar orang yang ditatah
menjadi sakit, giginya rontok bahkan ada yang sampai meninggal dunia. Oleh karena
itu upacara metatah tak pernah dilakukan hingga sang surya berada di puncak langit.
Sebelum upacara dimulai, bagian mulut mereka(orang yang
akan melakukan upacara potong gigi) diganjal terlebih dahulu dengan potongan
dari kayu dadap atau tebu dan kumur-kumur dengan air perasan kunir lalu
diakhiri dengan mengigit daun sirih pertanda berakhirnya proses metatah. Air
liur yang keluar yang keluar ditampung dalam sebuah kelapa gading dan biasanya dipegang oleh ibu kandung.
Setelah itu merekapun diperciki dengan air suci atau Tirtha Pembersihan/Penyucian oleh Sangging. Lalu mereka pun bersembahyang di merajan keluarga, dipimpin oleh seorang pedanda untuk memohon perlindungan dari Sang Hyang Widi Wasa untuk memasuki tahapan baru dalam hidup mereka. Kepada leluhur mereka minta didoakan dan direstui jalan hidupnya yang dilambangkan dengan Kewangen.
Setelah itu merekapun diperciki dengan air suci atau Tirtha Pembersihan/Penyucian oleh Sangging. Lalu mereka pun bersembahyang di merajan keluarga, dipimpin oleh seorang pedanda untuk memohon perlindungan dari Sang Hyang Widi Wasa untuk memasuki tahapan baru dalam hidup mereka. Kepada leluhur mereka minta didoakan dan direstui jalan hidupnya yang dilambangkan dengan Kewangen.
Pantangan – Pantangan dalam Upacara Potong Gigi:
Ibu-Ibu/Wanita yang sedang hamil tidak dibolehkan melakukan upacara potong gigi/ mepandes. Dasar acuannya: Lontar Catur Cuntaka.
Penjelasan:
Ibu-Ibu/Wanita yang sedang hamil tidak dibolehkan melakukan upacara potong gigi/ mepandes. Dasar acuannya: Lontar Catur Cuntaka.
Penjelasan:
1.
Mepandes adalah suatu upacara yang menyebabkan diri cuntaka.
Lamanya
cuntaka, saat dia naik ke bale petatahan, selama metatah, dan sampai selesai,
diakhiri dengan mabeakala. Setelah mabeakala barulah cuntakanya hilang. Prosesi
itu memakan waktu antara 1-2 jam. Walaupun masa cuntaka itu singkat, tetap saja
Ibu itu kena cuntaka.
2.
Bayi atau jabang bayi yang ada dalam kandungan adalah roh
suci yang patut dihormati, dipuja atas perkenan Sanghyang Widhi yang
“mengijinkan” roh itu menjelma kembali menjadi manusia (walaupun masih berupa janin).
Jadi Ibu yang mengandung bayi yang suci, patut
dihindarkan dari penyebab-penyebab cuntaka. Tidak hanya potong gigi saja,
tetapi juga semua jenis cuntaka, misalnya: ngelayat orang mati, mengunjungi penganten
(pawiwahan), memegang orang-orang sakit (sakit gede – lepra, aids dll).
Jadi demi keselamatan Ibu dan Bayi, sebaiknya
dalam upacara potong
gigi itu ditunda sampai bayinya lahir dan sudah berusia lebih dari 3 bulan.
Pantangan-pantangan Yang Dihindari
Ø
Tidak boleh makan atau minum sekehendaknya selama 3 hari.
Makan dan minum panas atau dingin merupakan pantangan yang utama setelah melakukan
upacara poyong gigi karena apabila makan dan minum yang
panas atau dingin akan merusak gigi.
Ø
Tutur kata tidak boleh menjelek-jelekkan orang lain.
Ø
Sebelum
dan sesudah
melaksanakan upacara potong gigi tidak boleh meninggalkan rumah sekehendaknya Selama 3 hari.
Ø
Waktu tidur dan makan di atur oleh orang tua setelah
mendapat penjelasan sebelumnya dari pendeta yang memimpin upacara tersebut.
Ø
Waktu mandipun diatur
Ø
Tidak diperkenankan membunuh binatang, tidak boleh
berkelahi atau mencaci maki orang lain.
Lambang-lambang atau Makna yang Terkandung dalam Unsur-unsur Upacara:
Sebagaimana dikemukakan di atas bahwa ada beberapa perlengkapan upacara yang digunakan yaitu seperangkat sirih pinang, seperangkat piring adat, sebentuk emas, telur ayam, daging kelapa, gula merah, dan daun pacar.
Sebagaimana dikemukakan di atas bahwa ada beberapa perlengkapan upacara yang digunakan yaitu seperangkat sirih pinang, seperangkat piring adat, sebentuk emas, telur ayam, daging kelapa, gula merah, dan daun pacar.
Alat perlengkapan ini melambangkan antara lain
Ø
Sirih pinang dan piring adat merupakan sesuatu yang harus
dimuliakan pada suku bangsa
Ø
Pamona pada setiap upacara tradisional sebab kedua perangkat alat ini melambangkan kesucian, kemuliaan, dan penghormatan kepada leluhurnya.
Ø
Telur ayam melambangkan supaya mempunyai keturunan yang
banyak seperti ayam.
Ø
Daging kelapa melambangkan supaya hati mereka lemah
lembut seperti daging kelapa tersebut.
Ø
Gula merah melambangkan supaya mempunyai masa depan yang
manis seperti gula. Artinya agar dalam menjalani hidupnya kelak senantiasa
mendapat kesenangan dan kedamaian hidup.
Ø
Daun pacar melambangkan agar mereka kelak mudah mendapat
jodoh yang baik.
Bagi seseorang yang belum sempat mengikuti upacāra
Mapandes, dan maut telah menjemput, berbagai tanggapan muncul, terhadap keadaan
ini, Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat, melalui keputusan Seminar Kesatuan Tafsir terhadap Aspek Aspek Agama Hindumemberikan jalan ke luar, sebagai berikut:
1.
Mapandes adalah upacāra Manusa Yajña yang patut
dilaksanakan pada saat seseorang masih hidup (sangat baik ketika remaja, belum
berumah tangga). Mapandes bagi orang yang telah meninggal
sesungguhnya tidak perlu dilakukan.
2.
Bila orang tua yang bersangkutan merasa masih punya
hutang berupa kewajiban, dapat menempuhnya dengan upacara
simbolis dengan kikir dari bunga teratai dilengkapi dengan adel-adel serta padi
seakan-akan yang bersangkutan bermimpi diupacarakan mapandes.
3.
Dengan demikian orang tua terbebas dari hutang kewajiban
kepada anaknya, sehingga roh anaknya diharapkan dapat
bersatu dengan roh leluhur yang telah disucikan.
Dampak upacara potong gigi terhadap kesehatan:
Penemuan di bidang kesehatan bahwa kikir gigi cenderung
berdampak negatif sehingga lebih baik dihindari. Alasan tersebut telah
menggoyah posisi upacara Mepandes. Tradisi mengikir gigi juga dapat dijumpai di
sebagian besar daerah kebudayaan Jawa khususnya beberapa tingkat generasi di
atas generasi saat ini. Barangkali, karena alasan kesehatan, ritual ini telah
menguap: kikir gigi pada umumnya mengikis email atau bagian ujung gigi sehingga
gigi menjadi rentan terhadap kerusakan dan infeksi. Dalam masyarakat modern,
kikir gigi dilakukan lebih didorong oleh motif kecantikan dan dilakukan oleh dokter gigi.
Di dalam Lontar Dharma Kahuripan, Ekapratama, dan lontar
Puja Kalapati, upacara potong gigi disebut “ atatah”. Sampai kini ada tiga istilah di Bali yang lazimnya
digunakan untuk menyebut Upacara Potong Gigi ; “matatah”, “mepandas”,
“mesangih”. Kata “ atatah” berarti pahat. Istilah metatah ini
dihubungkan dengan suatu tatacara pelaksanaan upacara putong gigi yaitu kedua
taring atas dan empat gigi seri pada rahang atas dipahat tiga kali secara
simbolis sebelum pengasahan (perataan) giginya dilakukan lebih lanjut. Rupa –
rupanya dari hal itulah muncul istilah matatah.
Mengenai istilah “Mesangih”,
rupa–rupanya dimunculkan dari pada mengasah gigi seri dan taring atas dengan
pengasah yaitu kikir dan sangihan – pengilap, sehingga gigi seri dan taring menjadi rata dan
mengkilap. Kata mesangih adalah
bahasa Bali biasa dan Bali halusnya disebut Mepandes. Maka dari itulah muncul tiga istilah upacara potong gigi
di Bali.
Upacara potong gigi merupakan merupakan salah satu bagian
dari upacara Manusa-Yadnya yang patut untuk dilaksanakan oleh umat Hindu.
Upacara ini mengandung pengertian yang
sangat dalam bagi
kehidupan umat Hindu yaitu :
1.
Pergantian prilaku untuk menjadi manusia sejati yang
telah dapat mengendalikan diri dari godaan pengaruh sadripu.
2.
Memenuhi kewajiban orang tuanya pada anaknya untuk
menemukan hakekat manusia yang sejati
3.
Untuk bertemu kembali di Sorga antara anak dengan orang
tuanya setelah sama – sama meninggal dunia.
Dari pengertian ini dapatlah, bahwa upacara potong gigi
adalah suatu upacara penting dalam kehidupan umat Hindu, karena bermakna
menghilangkan kotoran diri (nyupat) sehingga menemukan hakekat manusia sejati
dan terlepas dari belenggu kegelapan dari pengaruh Sad Ripu dalam diri manusia.
Lontar Atmaprasangsa menyebutkan bahwa, apabila tidak
melakukan upacara potong gigi maka ronya akan mendapat hukuman dari betara
Yamadipati di dalam neraka
( Kawah Candragomuka ) yaitu mengigit
pangkal bambu petung. Terlaksananya upacara ini merupakan kewajiban orang tua
terhadap anaknya, sehingga anaknya menjadi manusia sejati yang di sebut dengan Dharmaning Darma-Rena Ring Putra. Maka itulah orang tua di kalangan umat Hindu berusaha
semasa hidupnya menunaikan kewajiban terhadap anaknya dengan melaksanakan
upacara potong gigi. Guna membalas jasa Orang tuanya maka anak berkewajiban
upacara Pitra Yadnya atau Ngaben saat orang tuanya meninggal dunia, sesuai
dengan Dharmaning Putra Ring Rama Rena.
Berbakti kepada orang tuanya sesuai ajaran
Putra Sesana.
2.2 Tujuan Melaksanakan Upacara Potong Gigi
(mepandes)
Tujuan upacara potong
gigi dapat disimak lebih lanjut dari lontarkalapati dimana disebutkan bahwa
gigi yang digosok atau diratakan dari gerigi adalah enam buah yaitu dua taring
dan empat gigi seri di atas. Pemotongan enam gigi itu melambangkan symbol
pengendalian terhadap sad Ripu (enam musuh dalam diri manusia). Meliputi kama
(hawa nafsu), Loba (rakus), Krodha (marah), mada (mabuk), moha (bingung), dan
Matsarya (iri hati). Sad Ripu yang tidak terkendalikan ini akan membahayakan
kehidupan manusia, maka kewajiban setiap orang tua untuk menasehati
anak-anaknya serta memohon kepada Hyang Widhi Wasa agar terhindar dari pengaruh
sad ripu.Makna yang tersirat dari mitologi Kala Pati, kala Tattwa, dan
Semaradhana ini adalah mengupayakan kehidupan manusia yang selalu waspada agar
tidak tersesat dari ajaran agama (dharma) sehingga di kemudian hari rohnya dapat
yang suci dapat mencapai surge loka bersama roh suci para leluhur, bersatu
dengan Brahman (Hyang Widhi).Dalam pergaulan mudamudi pun diatur agar tidak
melewati batas kesusilaan seperti yang tersirat dari lontar Semaradhana.
Disamping itu pula upacāra Mapandes dapat dirujuk pada
sebuah lontar bernama Puja Kalapati yang mengandung makna penyucian seorang
anak saat akil balig menuju ke alam dewasa, sehingga dapat memahami hakekat
penjelmaannya sebagai manusia. Berdasarkan keterangan dalam lontar Pujakalapati
dan juga Ātmaprasangsa, maka upacāra Mapandes mengandung tujuan, sebagai berikut:
Melenyapkan kotoran dan cemar pada diri pribadi seorang
anak yang menuju tingkat kedewasaan. Kotoran dan cemar tersebut berupa sifat
negatif yang digambarkan sebagai sifat Bhūta, Kāla, Pisaca, Raksasa dan
Sadripu(enam musuh dalam diri manusia) yang mempengarhui pribadi manusia, di
samping secara biologis telah terjadi perubahan karena berfungsi hormon
pendorong lebido seksualitas.
Adapun 6 sifat buruk dalam diri manusia atau disebut juga sad ripu yang
harus dibersihkan itu meliputi:
1. Kama (hawa nafsu yang tidak terkendalikan)
2. Loba (ketamakan, ingin selalu mendapatkan yang lebih.)
3. Krodha (marahyang melampaui batas dan tidak terkendalikan).)
4. Mada (kemabukan yang membawa kegelapan pikiran)
5. Moha ( kebingungan atau kekurang mampu berkonsentrasi
sehingga akibatnya individu tidak dapat menyelesaikan tugas dengan sempurna.
6. Matsarya (iri hati/ dengki yang menyebabkan permusuhan).
Jadi potong gigi bukan semata-mata untuk mencari
keindahan tetapi mempunyai tujuan yang sangat mulia. Dari semua sifat yang ada ini, bila
tidak dikendalikan dapat mengakibatkan hal- hal yang tidak baik/diinginkan,
juga bisa merugikan dan membahayakan bagi anak-anak yang akan beranjak dewasa
kelak dikemudian hari. Oleh karena itu kewajiban bagi setiap orang tua untuk
dapat memberi nasehat, bimbingan serta permohonan doa kepada Sang Hyang Widhi
(Tuhan Yang Maha Esa) agar anak mereka terhindar dari 6 pengaruh sifat
buruk/sad ripu yang sudah ada sejak manusia di lahirkan di dunia. Keenam musuh
diri itu harus dibersihkan dari setiap diri manusia, sehingga ritual ini
menjadi kewajiban agar kehidupan setelahnya menjadi bersih dari semua sifat
buruk tersebut. Sad Ripu yang tidak terkendalikan akan membahayakan kehidupan
manusia, maka kewajiban setiap orang tua untuk menasehati anak-anaknya serta
memohon kepada Sang Hyang Widhi Wasa agar terhindar dari pengaruh sad ripu.
Makna yang tersirat dari mitologi Kala Pati, kala Tattwa, dan Semaradhana ini
adalah mengupayakan kehidupan manusia yang selalu waspada agar tidak tersesat
dari ajaran agama (dharma) sehingga di kemudian hari rohnya yang suci dapat
mencapai surga loka bersama roh suci para leluhur, bersatu dengan Brahman
(Hyang Widhi).Dalam pergaulan muda- mudi pun diatur agar tidak melewati batas
kesusilaan seperti yang tersirat dari lontar Semaradhana.
Dengan kesucian diri, seseorang dapat lebih mendekatkan
dirinya dengan Tuhan Yang Maha Esa, para dewata dan leluhur. Singkatnya
seseorang akan dapat meningkatkan Śraddhā dan Bhakti kepada-Nya.
2.3 Rangkaian Upacara Potong Gigi.
Tata cara pelaksanaanya berdasarkan
ketentuan dalam lontar Dharma Kahuripan dan lontar Puja Kalapati, bahwa tahapan
upacara potong gigi adalah :
- Magumi padangan, Upacara ini juga di sebut mesakapan kepawon dan dilaksanakan di dapur.
- Nekeb, Upacara ini dilakukan di meten atau di gedong
- Mabyakala, Ini dilakukan di halaman rumah di depan meten atau gedong.
- Ke Merajan, atau tempat suci di dalam rumah. Urut – urutan upacara di merajan adalah :
Mohon penugrahan kepada Bhatara Hyang Guru,
Menyembah Ibu dan Bapak, Ngayab caru ayam putih, Mohon tirtha (air suci) kepada
Bhatara Hyang Guru, Ngerajah gigi (Menulis gigi dengan wijaksara) dan Di pahat
taringnya secara tiga kali.
5.
Menuju
ketempat potong gigi, Urut – urutan upacaranya :
Sembahyang kepada Bhatara Surya dan kepada
Bhatara Semara dengan Bhatarai Ratih, Mohon tirtha kepada Bhatara Samara dan
Bhatari Ratih. Ngayab banten pengawak di bale dangin, Metatah atau memotong /
mengasah dua buah taring dan empat buah gigi seri pada rahang atas dan Turun
dari tempat potong gigi, jalannya ke hilir dengan menginjak banten paningkeb.
6.
Kembali
ke meten/ gedong tempat ngekeb. Bila ingin berganti pakaian,
sekarang bias dilakukan
7.
Mejaya
– jaya di merajan. Urutan upacaranya :
·
Mabyakala
·
Sembahyang kepada : Bhatara
Surya, Leluhur dan Bhatara Samudaya.
·
Menuju ke hadapan Sang Muput Upacara,
disini dilakukan meeteh- eteh persediaan : Mapyrascita,
Pangrabodan, Ngayab pungun-pungun dan pajejiwan, Matirtha penglukatan, pebersihan dan kekuluh,
Mejaya -jaya, Ngayab benten oton, Ngayab banten
pawinten-digunakan dan Mapadamel
·
Kembali ke meten/gedong tempat
ngekeb.
8.
Mapinton ke Pura Khayangan Tiga,
ke Pura Kawitan dan ke Pura lainnya yang menjadi pujaannya.
Urutan Upacara :
1. Setelah sulinggih ngarga tirta, mereresik
dan mapiuning di Sangah Surya, maka mereka yang akan
mepandes dilukat dengan padudusan madya, setelah itu mereka
memuja Hyang raitya untuk memohon keselamatan dalam melaksanakan upacara.
2. Potong rambut dan merajah dilaksanakan dengan tujuan
mensucikan diri serta menandai adanya peningkatan status sebagai manusia yaitu
meningalkan masa anak-anak ke masa remaja.
3. Naik ke bale tempat mepandes dengan terlebih dahulu menginjak
caru sebagai lambing keharmonisan,mengetukkan linggis tiga
kali (Ang, Ung, Mang) sebagai simbol
mohon kekuatan kepada Hyang Widhi dan ketiak kiri menjepit caket sebagai symbol
kebulatan tekad untuk mewaspadai sad ripu.
4. Selama mepandes, air kumur dibuang di
sebuah nyuh gading agar tidak menimbulkan keletehan.
5. Dilanjutkan dengan mebiakala sebagai sarana penyucian
serta menghilangkan mala untuk menyongsong kehidupan masa remaja.
6. Mapedamel berasal dari kata “dama” yang artinya
bijaksana. Tujuan mapedamel setelah potong gigi adalah agar si
anak dalam kehidupan masa remaja dan seterusnya menjadi orang yang bijaksana, yaitu tahap menghadapi suka duka kehidupan, selalu berpegang pada ajaran agama Hindu, mempunyai pandangan luas, dan
dapat menentukan sikap yang baik, karena dapat memahami apa yang disebut dharma
dan apa yang disebut adharma.
7. Natab banten, tujuannya memohon
anugerah Hyang Widhi agar apa yang menjadi tujuan melaksanakan upacara dapat
tercapai.
8. Metapak, mengandung makna tanda
bahwa kewajiban orang tua terhadap anaknya dimulai sejak berada dalam kandungan
ibu sampai menajdi dewasa secara spiritual sudah selesai, makna
lainnya adalah ucapan terima kasih si anak kepada orang tuanya karena telah
memelihara dengan baik, serta memohon maaf
atas kesalahan-kesalahan anak terhadap orang tua, juga
mohon doa restu agar selamat dalam menempuh kehidupan di masa datang
Sarana:
1.
Sajen sorohan dan suci untuk persaksian kepada Hyang
Widhi Wasa.
2.
Sajen pabhyakalan prayascita, panglukatan, alat untuk
memotong gigi beserta perlengkapannya seperti: cermin, alat pengasah gigi, kain
untuk rurub serta sebuah cincin
dan permata, tempat
tidur yang sudah dihias.
3.
Sajen peras daksina, ajuman dan canang sari, kelapa
gading dan sebuah bokor.
4.
Alat pengganjal yang dibuat dari potongan kayu dadap. Belakangan
dipakai tebu, supaya lebih enak rasanya.
5.
Pengurip-urip yang terdiri dari kunir serta pecanangan
lengkap dengan isinya.
Tata cara:
1.
Yang diupacarai terlebih dahulu mabhyakala dan
maprayascita.
2.
Setelah itu dilanjutkan dengan muspa ke hadapan Siwa
Raditya memohon kesaksian.
3.
Selanjutnya naik ke tempat upacara menghadap ke hulu.
Pelaksana upacara mengambil
cincin yang
dipakai ngerajah pada bagian-bagian seperti: dahi, taring, gigi atas, gigi
bawah, lidah, dada, pusar, paha barulah
diperciki tirtha pesangihan.
4.
Upacara dilanjutkan oieh sangging dengan menyucikan
peralatannya.
5.
Orang yang diupacari diberi pengganjal dari tebu dan
giginya mulai diasah, bila sudah
dianggap cukup
diberi pengurip-urip.
6.
Setelah diberi pengurip-urip dilanjutkan dengan natab banten
peras kernudian sembahyang
ke hadapan
Surya Chandra dan Mejaya-jaya.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Rangkaian
Upacara Potong Gigi di Desa Mekar Dewata
Tata cara
pelaksanaanya upacara potong gigi di Desa
Mekar Dewata adalah sebagai
berikut :
1. Menuju ketempat potong gigi, Urut – urutan
upacaranya :
Sembahyang kepada Bhatara Surya dan kepada
Bhatara Semara dengan Bhatarai Ratih, Mohon tirtha kepada Bhatara Samara dan
Bhatari Ratih. Ngayab banten pengawak di bale dangin, Metatah atau memotong /
mengasah dua buah taring dan empat buah gigi seri pada rahang atas dan Turun
dari tempat potong gigi, jalannya ke hilir dengan menginjak banten paningkeb.
2. Kembali ke meten/ gedong tempat ngekeb. Bila ingin berganti pakaian, sekarang bisa dilakukan
3. Mejaya – jaya di merajan. Urutan
upacaranya :
·
Mabyakala
·
Sembahyang kepada : Bhatara
Surya, Leluhur dan Bhatara Samudaya.
·
Menuju ke hadapan Sang Muput
Upacara, disini dilakukan meeteh- eteh persediaan : Mapyrascita, Pangrabodan, Ngayab pungun-pungun dan pajejiwan, Matirtha penglukatan,
pebersihan dan kekuluh, Mejaya -jaya,
Ngayab benten oton, Ngayab banten pawinten-digunakan dan Mapadamel
·
Kembali ke meten/gedong tempat
ngekeb.
4. Mapinton ke Pura Khayangan Tiga, ke Pura Kawitan dan ke Pura lainnya yang
menjadi pujaannya namun di
Desa Mekar Dewata ini dilakukan nyawang dari merajan langsung.
3.2 Urutan Upacara di Desa Mekar Dewata
1. Setelah sulinggih
ngarga tirta, mereresik dan mapiuning di Sangah Surya, maka mereka yang akan mepandes dilukat dengan
padudusan madya, setelah itu mereka memuja Hyang raitya untuk memohon
keselamatan dalam melaksanakan upacara.
2. Potong rambut dan
merajah dilaksanakan dengan tujuan mensucikan diri serta menandai adanya
peningkatan status sebagai manusia yaitu meningalkan masa anak-anak ke masa
remaja.
3. Naik ke bale tempat
mepandes dengan terlebih dahulu menginjak caru sebagai lambing
keharmonisan,mengetukkan linggis tiga kali (Ang, Ung, Mang) sebagai symbol mohon kekuatan kepada Hyang Widhi
dan ketiak kiri menjepit caket sebagai symbol kebulatan tekad untuk mewaspadai
sad ripu.
4. Selama mepandes, air kumur dibuang di sebuah nyuh gading agar
tidak menimbulkan keletehan.
5. Dilanjutkan dengan mebiakala sebagai sarana penyucian
serta menghilangkan mala untuk menyongsong kehidupan masa remaja.
6. Mapedamel berasal
dari kata “dama” yang artinya bijaksana.Tujuan mapedamel setelah potong gigi
adalah agar si anak dalam kehidupan masa remaja dan seterusnya menjadi orang
yang bijaksana, yaitu tahap menghadapi suka duka kehidupan, selalu berpegang pada ajaran agama Hindu,mempunyai
pandangan luas,dan dapat menentukan sikap yang baik, karena dapat memahami apa
yang disebut dharma dan apa yang disebut adharma.
7. Natab banten, tujuannya memohon anugerah Hyang Widhi agar apa yang
menjadi tujuan melaksanakan upacara dapat tercapai.
8. Metapak, mengandung makna tanda bahwa kewajiban orang tua
terhadap anaknya dimulai sejak berada dalam kandungan ibu sampai menajdi dewasa
secara spiritual sudah selesai,makna lainnya adalah ucapan terima kasih si anak
kepada orang tuanya karena telah memelihara dengan baik, serta
memohon maaf atas kesalahan-kesalahan anak terhadap orang tua,juga mohon doa
restu agar selamat dalam menempuh kehidupan di masa datang
3.3 Sarana yang
digunakan di Desa Mekar Dewata
1.
Sajen sorohan dan suci untuk persaksian kepada Hyang
Widhi Wasa.
2.
Sajen pabhyakalan prayascita, panglukatan, alat untuk
memotong gigi beserta perlengkapannya seperti: cermin, alat pengasah gigi, kain
untuk rurub serta sebuah cincin dan permata,
tempat tidur yang sudah dihias.
3.
Sajen peras daksina, ajuman dan canang sari, kelapa
gading dan sebuah bokor.
4.
Alat pengganjal yang dibuat dari potongan kayu dadap. Belakangan
dipakai tebu, supaya lebih enak rasanya.
5.
Pengurip-urip yang terdiri dari kunir serta pecanangan
lengkap dengan isinya.
3.4 Tata cara yang
dilakukan di Desa Mekar Dewata
1.
Yang diupacarai terlebih dahulu mabhyakala dan
maprayascita.
2.
Setelah itu dilanjutkan dengan muspa ke hadapan Siwa
Raditya memohon kesaksian.
3.
Selanjutnya naik ke tempat upacara menghadap ke hulu.
Pelaksana upacara mengambil
cincin yang
dipakai ngerajah pada bagian-bagian seperti: dahi, taring, gigi atas, gigi
bawah, lidah, dada, pusar, paha barulah
diperciki tirtha pesangihan.
4.
Upacara dilanjutkan oieh sangging dengan menyucikan
peralatannya.
5.
Orang yang diupacari diberi pengganjal dari tebu dan giginya
mulai diasah, bila sudah
dianggap cukup
diberi pengurip-urip.
6.
Setelah diberi pengurip-urip dilanjutkan dengan natab
banten peras kernudian sembahyang
ke hadapan
Surya Chandra dan Mejaya-jaya.
BAB IV
PENUTUP
4.1
Kesimpulan
Dari
serangkaian upacara diatas dapat kita pahami bahwa dalam diri setiap manusia
sejak mereka dilahirkan sudah terdapat sifat yang tidak baik, bila tidak
dikendalikan dapat mengakibatkan hal- hal yang tidak diinginkan, juga bisa merugikan dan membahayakan bagi anak-anak yang akan
beranjak dewasa kelak dikemudian hari. Dengan melakukan upacara Potong Gigi ini anak yang sudah dewasa diingatkan dan diajarkan
untuk tidak terjerumus dalam perbuatan yang dilarang agama dan bisa menjadi
manusia yang berguna bagi diri sendiri, keluarga, dan
masyarakat. Upacra potong gigi ini sangatlah penting dilakukan untuk
menetralisir sifat-sifat Sad Ripu yang ada di dalam diri manusia.
Upacara potong
gigi biasanya disatukan dengan upacara Ngeraja Sewala atau disebutkan pula
sebagai upacara “menek kelih”, yaitu upacara syukuran karena si anak sudah
menginjak dewasa, meningkatkan masa anak-anak
menuji ke masa dewasa.
Upacara potong gigi di Desa Mekar
Dewata, dalam rangkaian pelaksanaannya sedikit ada perbedaan tidak sesuai
dengan isi dalam lontar Dharma Kahuripan dan lontar Puja Kalapati, perbedaannya hanya sedikit di mana
di Desa Mekar Dewata tidak ada rangkaian Megumi Padang, Nekeb, dan Mebyakala di
natah atau halaman rumah. Di harapkan lebih di berikan
pembinaan oleh tokoh agama agar umat di Desa Mekar Dewata dalam melakukan kegiatan Upacara Potong Gigi sesuai dengan
ini Kitap Suci.
4.2
Saran
Pelaksanaan maupun tata cara dari
pada upacara potong gigi ( mepandes ) di harapkan harus memaknai secara serius
supaya upacara tersebut menjadi sangat berkualitas, agar
nantinya ke depan tidak terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.
Karena jika kita salah melakukan yajna suatu yajnya maka pahala yang salah juga
yang kita dapatkan, maka dari itu di harapkan kita lebih memaknai dan meyakini
semua yajnya yang dilakukan.
Khusus untuk di Desa Mekar Dewata,
tokoh Umat mungkin lebih memperdalam lagi pengetahuannya tentang kegiatan upacara
potong gigi yang dilakukan sesuai dengan ini lontar atau kitap suci yang kita
yakini sebagai pedoman kita hindup dan melakukan kegiatan keagamaan. Karena
dengan kita melakukan yajnya yang sesuai petunjuk kitap suci di harapkan yajnya
yang kita lakukan dapat di terima sehingganya kita di berikan anugrah oleh ida
sang hyang widhi dan tercapai tujuan yajnya yang kita lakukan.
DAFTAR PUSTAKA
-PHDI. 2012. Pedoman ajaran agama hindu. Swastikarana. Jakarta.
-Sujana, nyoman susila. 2012. Manggala Upacara. Widya Dharma.
Denpasar.
-Sakti,
Hanuman. 1994. Manusa Yadnya, rai dkk, Jakarta
-Dwija.www.Stiti-Dharma-Onlaine.com.upacara-metatah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar